1,5 Juta Siswa SMK Akan Lulus, Lapangan Pekerjaan Masih Minim

4

JAKARTA – Sekira 1,5 juta siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan lulus menempuh pendidikan pada tahun ini. Sementara jumlah lapangan pekerjaan yang ada tak sebanding jumlahnya. Artinya akan terjadi pengangguran dalam jumlah besar yang disumbang dari para lulusan SMK.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Pembinaan SMK Kemdikbud M. Bakrun mengatakan, pihaknya terus berupaya agar siswa SMK dapat terserap banyak oleh kalangan industri, sehingga tidak menimbulkan pengangguran yang besar. Salah satunya dengan program revitalisasi SMK yaitu dengan menambah jurusan baru yang sesuai perkembangan zaman dan merevisi kurikulum agar kompetensi yang dihasilkan bisa sesuai dengan kebutuhan industri.

“Misalnya saja jurusan e-commerce, pemasaran kita buka bisnis daring, ada juga desain komunikasi visual, energi terbarukan, animasi sudah ada juga, jurusan logistik juga sudah. Jurusan ini dalam rangka mengikuti kebutuhan industri. Kami mencoba kurikulum yang fleksibel agar lulusan SMK kompeten dan diterima di industri atau berwirausaha,” ujar Bakrun di Jakarta, Rabu (1/3/2018).

Selain itu, sambung dia, pihaknya juga akan menggelar lomba kompetensi siswa (LKS) untuk siswa SMK. Rencananya akan ada 51 bidang yang dilombakan dalam LKS SMK 2018 ini. Lomba yang diikuti oleh para siswa SMK seluruh Indonesia itu rencananya diadakan pada 6-12 Mei 2018 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan mengusung tema “Generasi Muda Zaman Now yang Berkompeten dan Berkarakter”.

“Lomba ini salah satu proses untuk menghasilkan siswa SMK yang kompeten,” tuturnya.

Nantinya, lanjut Bakrun, para pemenang LKS SMK ini akan bertarung bersama siswa SMK dari berbagai negara di dunia dalam ajang World Skills Competition (WSC) pada Agustus 2019 mendatang di Rusia. Persiapan selama satu tahun diperlukan agar para siswa dapat maksimal mempersiapkan lomba tersebut. Bakrun menambahkan, tahun lalu, perwakilan Indonesia berhasil mengharumkan nama bangsa di kancah internasional karena berada di peringkat 12. Ia berharap tahun ini dapat meraih peringkat lebih baik lagi.

Ia tak memungkiri, permasalahan dalam SMK yaitu masih banyaknya guru yang kurang kompeten dalam bidangnya. Ia mencontohkan, minimnya guru untuk kejuruan animasi yang banyak peminatnya.

“Kalau sudah jadi animator gajinya besar pasti tidak mau jadi guru karena gaji guru kecil. Belum lagi kalau mau PNS juga tidak jelas kapanya,” tuturnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya akan melakukan pelatihan-pelatihan bagi para guru agar dapat berkompeten sesuai bidangnya. Misalnya untuk mencetak guru yang mahir animasi maka guru teknologi informasi dan komunikasi (TIK) akan dilatih, meski hal tersebut tidak mudah.

“Untuk animasi kita ambil dari guru TIK meskipun kalau kita dalami lagi, animasi lebih ke seni dan bakat. Pelatihan-pelatihan guru ini akan ditingkatkan,” paparnya. Dengan upaya-upaya tersebut, ia berharap siswa SMK dapat berkompeten dan terserap oleh industri.

Ia menjelaskan, jurusan yang paling banyak tidak terserap oleh industri diantaranya teknologi dan rekayasa seperti otomotif, permesinan, teknik kimia dan jurusan bisnis manajemen. Oleh karenanya sejak dua tahun terakhir, pemerintah mulai membatasi pembukaan jurusan tersebut di SMK. “Kita mulai mengurangi juga karena kita tidak bisa kontrol (pembukaan jurusan) sejak 2003 sampai 2015 untuk bidang keahlian itu. Sekarang sangat sulit kalau mau buka jurusan itu,” katanya.