Jakarta – Baru-baru ini tim Seknas Assosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil Mikro (ASPPUK) menjadi inisiator pelaksanaan Workshop Penggalangan Dana Untuk NGO Anggota Jaringan NEW Indonesia mengambil tema, “Berdaya, Kuat dan Berkelanjutan”, bertujuan meningkatkan sekaligus mendorong kalangan aktivis lebih proaktif dalam giat fundrising dan menemukan model pengelolaan yang lebih sesuai.

Direktur Eksekutif ASPPIK Mia Ariyana memuji antusias partisipan dan berharap pelatihan dapat membekali personil dari organisasi jaringan menerima manfaat dari pelatihan kali ini.

Pelatihan yang dinilai berlangsung cukup interaktif ini menghadirkan instruktur Arifin Purwakananta dari Baznas dan Iik Firdhaussi dari Kitabisa. Pelatihan berlangsung di kawasan Menteng, Jakarta Pusat (31/5) . Sedikitnya 20 partisipan dari sejumlah organisasi ditambah pengurus Seknas JPPI mengikut pelatihan ini.

Arifin Purwakananta dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mengatakan, divisi fundrising dalam sebuah organisasi perlu fokus dan ditangani oleh orang yang tidak hanya sekedar punya minat namun mau melakukan perubahan itu sendiri.

Menurut Arifin, salah satu tujuan utama fundrising adalah untuk perubahan, perubahan dari kondisi krisis , kurang baik dan mendorong semua orang bersama-sama menjadi lebih baik.

“Masalah-masalah sosial dan krisis kemanusiaan merupakan hal yang perlu mendapat perhatian publik, pendidikan salah satunya, banyak tantangan di sana”, demikian Arifin.

Baznas sementara ini melola aset untuk disalurkan kepada yang berhak sedikitnya mencapai Rp 8 Triliun. Meningkat jumlahnya dibandingkan tahun 2017 lalu yang mencapai Rp 6,7 Triliun.

Kondisi sarana prasarana, akses dan ketersediaan SDM guru dalam pendidikan salah satu yang paling mendapat dukungan dari giat fundrising diberbagai negara di dunia.

Iik Firdhaussi dari Kitabisa memacu kalangan aktivis penggiat sosial bergerak dari sekarang, guna bertindak untuk perubahan dan mengatasi berbagai dampak krisis.

Menurut Iik pihaknya mendukung dan mendorong organsiasi sipil atau perorangan memaksimalkan galang dukungan publik (maya) dengan menggunakan platforom seperti KitabisaCom , tentu untuk perubahan lebih baik demi kemanusiaan.
Sebagian besar partisipan memuji kelas pelatihan terkait fundrising Kamis (25/5) dan berharap saling bersinergi lintas organisasi guna segera mewujudkannya target di organisasi dan lembaga masing-masing.

ASPPUK

Perempuan memegang peranan penting dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu peran perempuan mengutip laman Asppuk yang sering terabaikan adalah di bidang pengembangan ekonomi. Padahal, saat ini menurut Kementrian KUKM jumlah pelaku usaha mikro kecil mencapai 50,7 juta unit, secara menyeluruh perempuannya sekitar 60%nya. Sebagai akibatnya, hak-hak ekonomi perempuan masih kurang terfasilitasi.

Berdasarkan pemahaman di atas, pada Desember 1994 sejumlah Ornop (organiasi non pemerintah) yang concern terhadap pemberdayaan perempuan usaha kecil-mikro (PUK-mikro), menyelenggarakan lokakarya jaringan ornop sebagai upaya pengembangan PUK-mikro. Lokakarya tersebut menjadi titik awal terbentuknya jaringan ornop pengembang PUK-mikro. Kemudian, jaringan ini mengadakan Forum Nasional yang pertama tanggal 11-12-1997, dan menamakan jaringannya dengan “Yayasan Pendamping Perempuan Usaha Kecil” (YASPPUK).

Dalam perjalanan waktu, di Forum Nasional kedua, 24-27 Februari 2001, semua Ornop anggota bersepakat untuk mengganti bentuk kelembagaan YASPPUK menjadi Asosiasi, yang benama “Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil” disingkat ASPPUK. (Berbagai sumber/TIM)