Pengangguran SMK Terbuka Tertinggi, Disnaker MoU dengan Pengusaha

0
56
Siswa sekolah vokasi di Spanyol. analis mengatakan beberapa negara di Eropa memiliki sistem pendidikan vokasi yang cukup terintegrasi dan terbaik di dunia/RIBTTES

Malang Raya — Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Februari 2018 tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah yang tertinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya, seperti SMA.

BPS mencatat TPT dari SMK mencapai 8,92 persen dari jumlah angkatan kerja di Indonesia sebanyak 133,94 juta orang. Prosentase tersebut, secara angka mengalami penurunan sekitar 2,49 persen dari tahun 2017 lalu yang TPT nya mencapai 11,41 persen.

Kondisi inilah yang membuat Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang melakukan terobosan dalam mencari solusi atas persoalan tersebut. Melalui pelatihan kerja dengan materi praktis dalam dunia industri terhadap para lulusan SMK.

Pelatihan keterampilan kerja tersebut, tidak sekedar hanya pelatihan tanpa adanya tindak lanjut pasti bagi para lulusan SMK yang berjumlah sekitar 250 orang tersebut. Tapi ada terobosoan inovatif yang dilakukan oleh Disnaker Kabupaten Malang dalam mengurangi TPT khususnya di kalangan lulusan SMK.

Terobosan tersebut berupa Memorandum on Understanding (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Malang dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dalam menerima lulusan SMK sebagai tenaga atau pekerja magang di berbagai perusahaan yang ada.

“Melalui model magang kerja ini kita percaya bisa membantu masyarakat pencari kerja khususnya untuk para lulusan SMK. Model ini juga akan bisa mengurangi angka pengangguran juga,” kata M Yekti Pracoyo Kepala Bidang Pelatihan dan Produktivitas Disnaker Kabupaten Malang, Selasa (15/5/2018).

Model magang ini pula yang kini telah menjadi bagian dalam kurikulum pendidikan di SMK pada khususnya. Berbagai pengenalan secara praktik kerja secara langsung akan membuat siswa SMK lebih siap untuk menghadapi persaingan kerja yang semakin kompetitif dewasa ini.

Yekti menyampaikan, secara teori dimungkinkan mereka telah menguasainya. “Tapi dunia kerja tidak bisa hanya teori saja. Melalui magang baik sebagai kurikulum sekolah maupun magang kerja seperti yang kini kita jadikan inovasi dalam mengurangi pengangguran akan melengkapi keterampilan dan pengalaman kerja adik-adik kita, ” urainya kepada MalangTIMES.

Model pemagangan bagi lulusan SMK setelah mendapatkan pelatihan khusus tersebut, telah sesuai dengan apa yang disampaikan oleh seorang ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) yang merilis data bahwa angkatan kerja pada level pendidikan, baik SMK maupun SMA jumlahnya relatif besar. Yaitu sekitar 35,8 juta orang atau 28,2 persen dari total angkatan kerja.

Apabila angkatan kerja tersebut tidak terserap pasar, maka pertumbuhan ekonomi bisa terganggu. “Apalagi kita bakal mendapatkan bonus demografi di tahun 2030 mendatang dengan adanya angkatan kerja produktif yang terus tumbuh besar. Magang kerja menjadi solusi untuk para lulusan SMK untuk bisa terserap pasar,” ujar Bhima Yudhistira dari INDEF seperti dilansir beberapa media nasional.

Yekti menegaskan pula, bahwa terobosan dengan adanya pelatihan bagi lulusan SMK melalui pelatihan dan ditindaklanjuti dengan MoU dengan Apindo, bisa dijadikan awal tahun ini bagi program kerja Disnaker.

“Ini bisa dilanjutkan di tahun berikutnya. Jadi program kerja kita akan bisa fokus dan menghasilkan sesuatu yang produktif bagi masyarakat. Sesuai dengan program Kabupaten Malang dalam pengentasan kemiskinan,” pungkasnya.

Sumber : http://www.malangtimes.com/baca/27593/20180515/135107/tingkat-pengangguran-terbuka-smk-tertinggi-disnaker-mou-dengan-pengusaha-indonesia/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here