Puluhan Tahun Siswa SD di Nagekeo NTT Belajar Tanpa Meja dan Kursi

0
96
Kalangan muda baru-baru ini menggelar aksi damai mengajak publik lebih proaktif mendorong pemerintah agar menuntaskan berbagai ketimpangan pendidikan, baik akses dan aspek regulasi di tanah air, termasuk mewujudkan sekolah aman dari berbagai bentuk Kekerasan dan pungli/NEW Indonesia

NAGEKEO, NTT – Dunia pendidikan di wilayah timur Indonesia masih jauh dari kata layak. Jangankan menyoal kualitas mutu pendidikan, untuk sarana dan prasarananya saja sangat jauh tertinggal. Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh Rabu (2/5/2018) hari ini, sejatinya menjadi pengingat sekaligus evaluasi, potret pendidikan di Nusantara masih terpuruk, bahkan di era teknologi modern saat ini.

Penelusuran iNews di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapati sejumlah sekolah yang infrastrukturnya sangat terbatas dan apa adanya. Salah satunya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres Alo Rawe.

Di sekolah itu, siswa harus saling bergantian untuk bisa belajar dengan nyaman di meja dan kursi. Siswa laki-laki harus sering mengalah dan memilih duduk di lantai saat mendengarkan pelajaran dari guru. Bukan karena tidak sopan atau melanggar aturan, namun mereka duduk di lantai karena ketersediaan kursi dan meja belajar yang tidak memadai dengan jumlah para siswa.

Dalam satu ruang kelas yang terdiri atas puluhan siswa, hanya terdapat tak lebih dari tiga meja belajar, serta beberapa bangku. Banyak siswa bahkan menggunakan bangku sebagai meja untuk menulis. Beberapa yang lain memilih tiduran saat menulis pelajaran. Kondisi sarana dan prasarana sekolah itu sangat tidak mendukung peningkatan kualitas mutu pendidikan peserta didik.

“Kalau mau menulis harus berlutut di lantai. Ada juga anak laki-laki yang sambil tiduran saat pelajaran,” kata Maria Nale, salah satu siswi SDN Inpres Alo Ware, Selasa (1/5/2018).

Tak hanya itu, keberadaan lokasi sekolah yang terletak di seberang sungai dari permukiman warga juga menjadi persoalan. Para siswa harus berjibaku menyeberangi arus karena tidak adanya jembatan.

Minat belajar siswa untuk bejalar terhalang dengan ketersediaan sarana dan prasarana. Mereka juga kesulitan memenuhi peralatan sekolah karena berasal dari kalangan masyarakat menengah ke bawah.

“Kami punya 60 siswa dan delapan guru. Setiap hari diperhadapkan dengan berbagai kekurangan ini. Namun kami bersyukur masih bisa menjalankan proses belajar mengajar, hanya saja untuk saat ini kami tidak memiliki ruang perpusatakaan,” kata Kepala Sekolah SDN Inpres Alo Rawe, Yohanes Oktaf Molina.

Dia melanjutkan, sekolahnya memiliki beberapa unit komputer namun tidak bisa digunakan karena tidak memiliki ketersediaan listrik. Sementara untuk meja dan kursi belajar, kondisinya sudah seperti itu selama puluhan tahun sekolah berdiri.

“Kami sangat kekurangan bangku dan meja belajar, yang para siswa gunakan saat ini, usianya sudah puluhan tahun, belum ada bantuan,” tuturnya.

Sumber : https://www.inews.id/daerah/regional/109529/puluhan-tahun-siswa-sd-di-nagekeo-ntt-belajar-tanpa-meja-dan-kursi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here