JOGJA–Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Jogja mendorong Pemerintah Pusat untuk memperhitungkan secara matang server dalam mendukung Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2019 mendatang.

MKKS SMP Kota Jogja menemukan peristiwa server offline tidak hanya terjadi pada hari pertama, tetapi juga di hari kedua dan ketiga pelaksanaan UNBK. Selain itu, pada hari keempat diwarnai listrik padam di sejumlah sekolah.

Ketua MKKS SMP Kota Jogja Widayat Umar meminta Kemendikbud harus lebih siap lagi pada UNBK 2019 mendatang. Karena harus diakui, pada hari pertama UNBK server pusat kalang kabut tidak mampu melayani, akibatnya waktu pelaksanaan ujian mundur. Pusat tidak bisa hanya menggunakan referensi saat simulasi, karena pelaksanaan simulasi UNBK digelar secara bergantian dan tidak semua sekolah mengikuti.

“Kemarin kurang diantisipasi terkait banyaknya beban server yang akan ditanggung pusat dan berdampak pada server di sekolah,” kata Widayat kepada Harian Jogja, Kamis (26/4/2018).
Apalagi, jumlah sekolah yang mengikuti UNBK di 2019 mendatang diperkirakan akan bertambah mengingat saat ini ada beberapa sekolah yang belum mengikuti UNBK. Ia berharap Kemendikbud lebih cermat dalam memperhitungkan perkiraan beban server sehingga peristiwa server offline tidak terjadi lagi.

Widayat mengatakan pascahari pertama yang mengalami offline lebih dari dua jam, pada hari kedua dan ketiga masih terjadi beberapa kali offline meski dalam waktu yang tidak lama.
Ia memastikan jaringan server seperti yang terjadi di sekolahnya, SMPN 2 Kota Jogja belum sepenuhnya stabil. Karena ada beberapa siswa yang secara tiba-tiba logout akibat pengaruh kendali server pusat yang belum sepenuhnya stabil.

Server offline itu membuat proktor tidak bisa memantau jalannya pengerjaan soal yang dilakukan para peserta. Selain itu proktor harus menunggu server kembali online ketika akan mengirimkan data jawaban siswa ke pusat.
“Itu secara psikologis sangat mengganggu anak, karena dalam proses UNBK sehari-hari selalu terjadi offline. Walaupun kami sudah mengantisipasi dengan mengunduh soal lebih awal, agar bisa langsung mengerjakan. Itu kami rasakan selama empat hari [pelaksanaan UNBK] ini,” katanya.

Berdasarkan pengamatan dia melalui MKKS SMP, ketidakstabilan itu terjadi di beberapa sekolah. Mengingat komunikasi melalui MKKS terus digelar secara intens di grup WA selama pelaksanaan UNBK. “Jadi online, offline, online offline, online, offline lagi, seperti itu tetapi sebentar sebentar,” kata dia.

Selain server, masalah klasik listrik juga tak mampu dipecahkan. Komitmen PLN untuk menjaga listrik tetap stabil saat pelaksanaan UNBK belum sepenuhnya bisa dipegang.
Ia menyarankan komitmen itu sebaiknya jangan sekadar di level daerah, perlu ada keterlibatan PLN pusat dan Kemendikbud secara terikat dalam membuat komitmen tetap terjaganya daya listrik selama pelaksanaan UNBK. Karena nyaris semua sekolah hanya berspekulasi dan dibayangi ketakutan listrik padam.

Faktanya, kata dia, pada Kamis (26/4/2018) listrik mati berdampak ke sejumlah sekolah terutama di kawasan Gondomanan. Untungnya, peristiwa itu terjadi saat sesi pertama sudah selesai. Sejumlah sekolah yang terdampak antara lain SMP Perintis, SMPN 10 Kota Jogja, SMPN 2 Kota Jogja dan sejumlah sekolah ini.

“Hampir sebagian besar SMP di selatan [Kota Jogja] terdampak listrik mati. Ini tadi [Kamis] saya memantau di grup WA kepala sekolah dan semuanya pakai genset, termasuk di SMPN 2 ini pakai genset. PLN sudah komitmen tetapi faktanya hari ini [Kamis] mati. Ke depan harus bisa diatasi,” kata Kepala SMPN 2 Kota Jogja ini.

Widayat menegaskan keberadaan genset saat ini sangat dibutuhkan, apalagi ujian sekolah juga mulai berbasis komputer. Namun sekolah tidak mampu ketika harus membeli genset. Ia berharap ada komitmen dari pihak terkait dalam memecahkan persoalan ini demi peningkatan kualitas dengan adanya pengadaan genset.

Terpisah anggota pengurus MKKS SMP Kota Jogja Arief Wicaksono sepakat dengan pernyataan Widayat Umar. Ke depan pusat harus memiliki perhitungan cermat agar kapasitas server tidak overload.

“Kementerian seharusnya bisa mengantisipasi berapa sekolah yang akan UNBK dan seberapa kemampuan server yang dimiliki pusat, sehingga kemungkinan overload yang berdampak pada siswa bisa diantisipasi. Karena hal itu sangat berdampak pada psikologis siswa,” kata Kepala SMPN 9 Kota Jogja ini.

Kasi Perencanaan Pendidikan Bidang Perencanaan dan Standardisasi Pendidikan Disdikpora DIY Bahtiar Nurhidayat menyatakan kendala jaringan offline sepenuhnya berasal dari pusat. Disdikpora DIY telah melakukan berbagai upaya melalui helpdesk UNBK dalam melayani berbagai kendala yang dihadapi sekolah.

“Namun tidak semua keluhan sampai ke kami, karena mungkin sudah bisa diselesaikan oleh proktor di sekolah atau helpdesk kabupaten/kota,” kata dia.

Sumber : http://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2018/04/27/510/913019/jangan-ada-server-ngadat-di-unbk-2019