BANYUMAS – Kondisi fisik maupun mental sembilan siswa SMK Kesatrian Purwokerto berangsur membaik, pascamengalami kekerasan oleh oknum guru, LS, beberapa waktu lalu.

Mereka bahkan kini tengah mengikuti studi tour yang diselenggarakan pihak sekolah, sejak Senin (23/4) lalu.

Rabu (25/4) kemarin, anak-anak korban kekerasan itu masih menikmati suasana rekreasi di sejumlah objek wisata di Jakarta dan Bandung. Para siswa yang masih duduk di bangku kelas 11 ini dijadwalkan kembali dari kegiatan study tour itu, Kamis (26/4) hari ini.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak (PPT PKBGA) Kabupaten Banyumas, Triwuryaningsih mengatakan, keikutsertaan mereka dalam kegiatan itu menunjukkan perkembangan positif.

Artinya, mereka telah siap untuk kembali membaur dengan siswa dan guru di sekolahnya tanpa perasaan takut atau trauma. Terlebih, kegiatan senang-senang semacam ini bisa membantu mereka untuk sejenak melupakan pengalaman pahit di masa silam.

“Harapannya, dengan mereka studi tour, tidak ada perasaan takut. Apalagi kegiatan itu kan untuk refreshing, senang-senang dan kumpul-kumpul,” kata Triwuryaningsih, Rabu kemarin.

Dengan keikutsertaan sembilan siswa korban kekerasan oleh oknum guru dalam kegiatan study tour itu, menurut Triwuryaningsih, pihaknya terpaksa menjadwalkan ulang program konseling terhadap mereka. Padahal PPT PKBGA Banyumas sebelumnya telah menjadwalkan konseling terhadap anak-anak korban kekerasan tersebut, Kamis hari ini.

Para siawa korban kekerasan ini sempat tidak masuk sekolah dua hari, Jumat-Sabtu (20-21/4), pascaperistiwa kekerasan yang mereka alami. Hingga mereka akhirnya ikut berangkat studi tour pada Senin (23/4) kemudian.

Masih ditahan

Adapun LS, oknum guru tersangka kasus kekerasan terhadap siswa SMK Kesatrian, saat ini masih ditahan di Mapolres Banyumas. Ia masih menjalani proses penyidikan sebelum perkaranya dilimpahkan ke kejaksaan untuk mendapatkan pengadilan.

Kasubbag Humas Polres Banyumas, AKP Sukiyah mengungkapkan, dilakukan bermula dari beredarnya video penamparan tersebut hingga kemudian ada pihak orangtua satu korban melaporkan kepolisian dan pihaknya langsung melakukan pengembangan.

“Di video memang hanya ada satu orang. Setelah kami kembangkan ternyata ada sembilan orang korbannya. Mereka dianggap melakukan kesalahan oleh oknum guru karena terlambat masuk kelas. Dari sembilan anak dua orang mengalami telinganya berdengung, namun sudah membaik kondisinya,” kata dia.

Sementara itu, oknum guru penampar sembilan siswa SMK Kesatrian sudah dinonaktifkan. Kepala Seksi SMK Balai Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) Wilayah V Banyumas, Kustrisaptono mengatakan, pihaknya langsung mengambil langkah cepat malam hari setelah kejadian penamparan.

Pihaknya memanggil pihak sekolah. Dalam pemanggilan tersebut BP2MK Wilayah V Banyumas memberikan rekomendasi kepada sekolah untuk menonaktifkan sementara guru yayasan tersebut. “Sudah dinonaktifkan sejak sehari setelah kejadian.

Status nonaktif guru tersebut masih belum ditentukan hingga kapan,” kata Kustrisaptono, Minggu (22/4) lalu.
Oleh karena status L adalah guru yayasan, kata Kustrisaptono, tindakan kepada guru tersebut dilakukan oleh pihak yayasan.

Sementara Dinas Pendidikan Provinsi melalui BP2MK hanya bisa memberikan rekomendasi. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul KABAR TERBARU! Kondisi 9 Siswa Korban Pemukulan Oknum Guru dan Pelakunya, http://jateng.tribunnews.com/2018/04/26/kabar-terbaru-kondisi-9-siswa-korban-pemukulan-oknum-guru-dan-pelakunya?page=all.