Suburkan Toleransi, Desa di Semarang Ini akan Punya 6 Rumah Ibadah

Sambut Paskah, Siswa SDK Santa Maria Blitar Gelar Aksi Sosial
March 31, 2018
Peneliti: Apakah Pendidikan Mendorong Peningkatan Kesejahteraan?
April 2, 2018

Semarang — Polres Semarang berdiskusi bersama tokoh masyarakat dan anak-anak sekolah di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Diskusi ini digelar untuk memberi pemahaman soal bahaya radikalisme.

“Diskusi ini untuk memberikan informasi kepada masyarakat terutama anak sekolah, santri dalam rangka antisipasi radikal, kami juga mengandeng Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ketua MUI Semarang, dan para tokoh ulama,” kata Kapolres Semarang AKBP Agus Nugroho di Hotel C3, Jl. Dipenogoro, Genuk, Ungaran Barat, Jawa Tengah, Rabu (28/3/2018).

Pemaparan dalam diskusi disampaikan Kasat Intel Polres Semarang AKP Tri Hartanto. Diskusi ini diikuti tokoh masyarakat, santri Pondok Pesantren Al-Ikhlas Gowongan, dan SMK Darussalam Ungaran.

“Terkait pemahaman radikalisme bukan hanya masalah persoalan siapa pelaku, tokoh atau jaringan terorisme. Namun lebih dari itu, terorisme merupakan tindakan yang memiliki akar keyakinan, doktrin, dan ideologi yang dapat menyerang kesadaran masyarakat,” tutur Tri.

Dia juga menjelaskan upaya-upaya pencegahan timbulnya paham radikal. Dia mengatakan pencegahan dilakukan lewat beberapa langkah.

“Ini penanggulangan terorisme ada kontra naratif yaitu melawan propaganda paham terorisme melalui internet, media massa, dan lain-lain, selanjutnya ada kontra radikal yaitu melawan paham radikalisme melalui pembinaan lewat tokoh agama, tokoh adat, dan elemen masyarakat, terakhir itu ada preventive justicial yaitu deteksi dini dan penegakan hukum terhadap terduga pelaku teror,” jelas dia.

Di lokasi yang sama, perwakilan FKUB, Sinwan, berharap penyuluhan digelar berkelanjutan untuk memupuk toleransi antarwarga. Dia juga berinisiatif membuat desa kerukunan yang nantinya memiliki rumah ibadah dari 6 agama.

“Nanti Bapak, Ibu, dan Adik, kita akan buat desa yang ada rumah ibadah 6 agama di Kelurahan Keranggan Ambarawa dan ini nanti akan menjadi pilot project Jawa Tengah untuk jadi percontohan umat beragama,” tutur Tri.

Desa kerukunan ini diharapkan bisa jadi wadah masyarakat dalam mempersatukan umat beragama dan budaya. Selain itu, dapat menjadi wadah untuk membantu sesama masyarakat.

“Ini diharapkan nantinya misalkan membersihkan rumah ibadah bersama-sama jadi itu semua bersama-sama dilaksanakan kita juga buat kegiatan sosialisasi dengan berbagai agama untuk membantu masyarakat miskin dan juga ada program pasar murah yang difasilitasi FKUB,” ucap dia.

Dalam acara ini turut hadir sebagai pembicara yakni Haris Pranowo dari Kesbangpol dan Ketua MUI Semarang Miftahudin.

Nginap Bareng Santri

Agus Nugroho juga mencanangkan subuh bersama masyarakat untuk menyampaikan materi antiradikalisme. Selain itu, anggota bhabinkamtimbas juga akan menginap bareng santri.

“Untuk mencegah tindakan radikalisme secara intern sosialisasi baik itu lewat Kasatintel maupun Bhabinkamtibmas, kemudian secara ekseternal Bhabinkamtibmas melaksanakan silaturahmi pada para tokoh dilanjutkan dengan kegiatan nginap bareng santri di pondok pesantren maupun di tempat lainnya,” ujar Agus.

Nginap bareng santri ini dijadwakan dua kali dalam seminggu di setiap polsek yang berada di bawah Polres Semarang.

“Nginap bareng santri ini jadwalnya satu minggu dua kali di setiap polsek, ini sudah berjalan hampir dua bulan, kalau kegiatan salat subuh bareng masyarakat ini baru jalan awal bulan ini,” jelas Agus.

Sumber : https://news.detik.com/berita/3941642/suburkan-toleransi-desa-di-semarang-ini-akan-punya-6-rumah-ibadah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *