Kesadaran ekologi sesungguhnya adalah risalah yang paling tua setelah teologi. Bukankah salah satu pemicu terusirnya Adam dan Hawa dari surga Tuhan yang dilambangkan dengan lingkungan yang hijau musababnya adalah karena mereka berdua tidak mengindahkan larangannya untuk tidak mendekati pohon? Justru keduanya bukan hanya mendekati, tapi memetik bahkan memakan buahnya.

Pohon adalah simbol kesadaran ekologis. Ketika kesadaran ini punah, serta merta Adam dan Hawa pun harus merasakan nasib pahit: terusir dari lingkungan damai, terdampar di daerah tandus sebelum akhirnya keduanya dipertemukan di Bukit Rahmah di Padang Arafah, dan langsung menyesali perbuatan mereka.

Kalau kita membuka literatur hadis, kita akan dengan mudah menemukan teladan nyata tentang bagaimana keharusan memperlakukan alam dan binatang dengan penuh kasih dan sayang. Ketika masih hidup, Nabi SAW juga mencanangkan cagar alam (syariat hima). Setelah Nabi saw wafat, syariat hima ini–sebagaimana dicatat Ulumul Quran (1998)– terus dilestarikan para penggantinya.

Khalifah Umar ibn Khathab, misalnya, menetapkan hima asy-syaraf dan hima ar-raddah yang cukup luas di dekat Dariyah; khalifah Utsman ibn Affan memperluas hima kedua, yang menurut riwayat mampu menampung 1.000 binatang setiap tahun.

Sejumlah hima yang ditetapkan di Arabia Barat ditanami rumput sejak awal Islam dan dianggap oleh organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) sebagai contoh yang paling lama bertahan dalam pengelolaan padang rumput secara bijaksana di dunia.

Cinta terhadap alam dan binatang dengan sangat mengagumkan telah diteladankan oleh para mistikus Muslim (sufi) seperti tampak dalam literasi yang dikemas dalam senarai syair-syair yang mereka buat yang kadang memunculkan salah penafsiran seolah mereka tengah mengembangkan paham naturalisme.

Seorang sufi terkemuka Yusuf Emre dengan memukau menyimbolkan fakta ekologi dengan realitas alam surgawi: Semua sungai yang ada di surga/mengalir dengan kata Allah, Allah/Dan setiap burung Bulbul bercumbu/dan menyanyikan nada: /Allah, Allah.

Kita kutip juga syair-syair menggetarkan yang ditulis Jalaluddin Rumi yang mampu “mendengarkan kata-kata bisu’ alam karena meyakini bahwa alam dan segala isinya adalah tabir beraneka warna yang menutupi wajah Sang Kekasih:

Di taman ada beratus-ratus kekasih nan menawan

Bunga mawar dan bunga tulip menari berputar-putar

Di anak sungainya mengalir air bening

Semuanya ini adalah dalil: itulah Dia

Taman, hujan, tanaman.

Lebih jauh bagi Rumi, mana mungkin taman akan tersenyum jika saja mendung tidak mengucurkan air matanya. Dengan penuh cinta mendung itu akan berubah menjadi hujan yang membasahi tetumbuhan sehingga menyuburkan sebuah negeri.

Novel teosofi yang dibuat sastrawan Muslim terkemuka Ibn Tufail (1106) dalam karyanya Hayy bin Yakdzon yang dari novel ini di kemudian hari Daniel Defoe (1719-1820) banyak menimba ilham yang kemudian menghasilkan novel Robinson Crusoe, ia dengan indah menulis paragraf-paragafnya yang mencerminkan cinta yang tulus pada alam.

Kalau kita menziarahi tradisi mistisisme Timur Tao juga akan kita temukan pesan yang tidak jauh berbeda seperti tercatat dalam karya-karya Chuang-Tze yang dikutip Nasr dalam Encounter Man and Nature (2003).

“Saya dengar bahwa, Anda Tuan, sangat paham dengan Tao yang sempurna. Saya ingin bertanya apa esensi Tao. Saya ingin menguasai langit dan bumi, dan membantu makhluk (tumbuhan) lima biji-bijian untuk menghasilkan makanan (lebih baik) bagi orang. Saya juga ingin mengatur jalannya Yin dan Yang, untuk menjamin kesenangan semua makhluk hidup. Bagaimana saya dapat mencapai tujuan ini?’

Kwang Khang Tze menjawab, “Apa yang ingin Anda minta adalah substansi asal dari semua benda; apa yang ingin Anda lakukan merupakan kehancuran dan keterbelahan substansi. Jika berjalan menurut perintah Anda, maka asap awan sebelum berkumpul akan turun menjadi hujan, semak dan tumbuhan akan menggugurkan daunnya sebelum keduanya berteman. Cahaya matahari dam bulan akan segera padam. Pikiran anda merupakan pikiran penyanjung dengan kata-kata yang masuk akal. Tidaklah pantas jika saya harus katakan pada anda tentang Tao yang sempurna itu.’

Fenomena Mutakhir

Pudarnya kecintaan pada alam: inilah fenomena mutakhir yang telah mendorong bumi manusia “lebih tua’ daripada usia yang semestinya. Musim kemarau menjadi tandus, dan tatkala hujan datang maka banjir mengepung kita seperti terjadi minggu-minggu ini. Pendek kata, perilaku primitif yang kehilangan visi Cinta ini yang menjadi akar hidup tidak nyaman sebagaimana kenyamanan yang dilukiskan Tuhan dengan elok dalam QS. al-Waqiah/56: 28-33.

Dalam Global Forum on Ecology and Poverty, ‘Sebagaimana dilaporkan Jurnal Islamika (1994), Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) menyatakan, ‘Dunia kita berada di tepi kehancuran lantaran ulah manusia. Di seluruh planet sumber-sumber alam dijarah kelewat batas.’

Disebutkan juga, pada setiap detik, diperkirakan sekitar 200 ton karbon dioksida dilepas ke atmosfer dan 750 ton topsoil musnah. Sementara itu, diperkirakan sekitar 47.000 hektare hutan dibabat habis, 16.000 hektare tanah digunduli, dan antara 100 hingga 300 spesies mati tiap hari.

Pada saat yang sama, secara absolut jumlah penduduk bumi meningkat 1 miliar orang per dekade. Krisis ini, akibat ulah manusia yang buas, tentu mengancam kelangsungan hidup kita di planet bumi ini.

Tragisnya lagi, dalam fenomena mengenaskan seperti ini, para pembuat kerusakan itu kerap bersembunyi di balik jargon pembangunan, meski nyata betul mereka itu dalam waktu bersamaan, juga membuat kehancuran. Pembangunan sering berwajah ganda: development and destruction. Sebuah gejala yang sering tidak disadari atau pura-pura tidak disadari.

Muhammad Mabrur, pemerhati masalah sosial, penulis dan peneliti lepas.

Sumber : https://beritagar.id/artikel/telatah/literasi-kesadaran-ekologi