PALMERAH – Kabar kematian bersusulan puluhan anak Kabupaten Asmat, Papua karena gizi buruk dan wabah campak dalam beberapa pekan terakhir mengejutkan dunia.

Bukan hanya terjadi di tengah pesatnya pembangunan beragam infrastruktur yang digagas Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, keterangan Presiden Jokowi yang menyebutkan kejadian dipicu sulitnya akses jalan Papua itu sangat memilukan masyarakat.

Peristiwa yang kini dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) itu dinilai Rudi Hartono lewat akun @rhrudihartono sebagai bukti pembangunan infrastruktur modern tidak melulu dibutuhkan masyarakat.
Sebab, kebutuhan dasar seperti air bersih, rumah sakit ataupun sekolah yang justru dibutuhkan masyarakaty di pedalaman, seperti kabupaten Asmat saat ini.

“Halo, Pak Presiden @jokowi, sdh 61 anak meninggal dunia di Asmat krn campak dan gizi buruk. Sebetulnya, dibanding Tol dan Kereta Cepat, bangsa ini butuh banyak RS, Puskesmas, Sekolah, air bersih, rumah layak, dn pangan murah bergizi,’ tulisnya menanggapi pemberitaan Kompas.id pada Senin (15/1/2018) lalu.

R Wijaya lewat akun @blueboxxx juga menilai jika sebagus apapun jalan tol ataupun semodern apapun kereta cepat yang kini dikebut Jokowi tidak sebanding dengan kebutuhan dasar masyarakat.

“Ini menujukkan bahwa sehebat apapun jalan tol..semodern apapun kereta cepat..kebutuhan mendasar seperti kesehatan pendidikan dan perumahan adalah yg utama,” tulisnya dibalas Alfida Nasution @AlfidaNasution_, ‘Rakyatnya lapar butuh makan, bukan aspal’.

Sementara, NurShinta lewat akun @Nr_shint menyoroti keterangan Jokowi yang menyebutkan jika akses menuju Kabupaten Asmat sangat sulit.

Hal tersebut menurutnya bertolak belakang dengan pencapaian pembangunan yang digaungkan Jokowi dalam beragam pemberitaan.

“Ada yang aneh dgn pak @jokowi ini, saat jalan tol sdh terbangun di papua, infrastruktur sukses luar biasa, bbm 1 harga, barang2 pokok murah sekali, skrg malah ngomong: akses ke asmat sangat berat,” tulisnya.

Komentar itu disusul kicauan @Budi_Setiawan72 soal indahnya kepemimpinan Soeharto kala menjadi Presiden RI, ‘Zaman Soeharto aja suku Asmat dapet perhatian shngga budaya mereka go international. Direjim ini menjadi terabaikan. Ironis 60 anak Asmat meninggal dlm bbrp bulan’.

Sedangkan Jerin lewat akun @jerin_68 menyebut jika tragedi tersebut bukan sepenuhnya kesalahan pemerintah pusat, tetapi pemerintah setempat yang tidak berpihak kepada rakyatnya sendiri.

“Sebesar apapun dana & program yg digelontarkan, keberhasilannya sangat tergantung pd pemda setempat..jk pemdanya ga becus salah urus & tdk berpihak, maka derita seperti asmat lah yg akn terjadi..tdk adil jk kt tfus menyalahkan pusat..daerah mesti bercermin diri,” tulisnya membela.

Namun, terlepas dari pro dan kontranya pendapat netizen ataupun isu nasional lainnya, akun @papua_satu mengajak seluruh warga Indonesia melupakan pertentangan dan berdoa agar tim kesehatan dari kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dapat menanggulangi KLB tersebut secepatnya.

“Mari sejenak tinggalkan kekalahan Timnas Indonesia saat melawan Islandia. Jika berkenan tundukkan kepala sejenak dan berdoa agar anak-anak yang terkena wabah campak & gizi buruk di Asmat Papua segera mendapat pertolongan dari #Timkes #Papua @KemenkesRI @Jokowi Aamiin,” tulisnya.

Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2018/01/17/gizi-buruk-papua-netizen-pertanyakan-pencapaian-jokowi