JPPI : Perhatian Terhadap Pendidikan Sepanjang Hayat Masih Minim

0
325
Koordinator Program The Asia South Pacific Association for Basic and Adult Education (ASPBAE) Cecilia Soriano menjadi salah seorang panelis dalam sesi Workshop Lifelong Learning di Jakarta (12/12)/NEW Indonesia

Jakarta – Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) atau Network for Education Watch Indonesia (NEW Indonesia) A Ubaid Matraji mengajak para pemangku kebijakan menggiatkan advokasi pendidikan sepanjang hayat (Lifelong learning) di tanah air. Indonesia dinilai masih memprioritaskan anggaran pendidikan untuk sekolah formal dan vokasi semata, sementara perhatian pemerintah kepada pendidikan dan pembelajaran sepanjang hayat masih minim.

Koordinator JPPI Ubaid Matraji membuka resmi Workshop Pendidikan Lifelong Learning yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini (12/12/2017). Pelatihan diikuti lebih 20 (dua puluh) perwakilan organisasi jaringan NEW Indonesia/JPPI.
“Ketika kawan-kawan kita, anggota jaringan (CSO) bicara mengenai penerapan pendidikan lifelong learning, di area apa saja mereka jauh lebih menguasai,” tegas Ubaid.

Ubaid menambahkan, ada diantara dari anggota jaringan kita yang menjadi pendamping para ibu-ibu agar lebih mandiri dan mampu mengadvokasi diri mereka sendiri guna memperoleh hak-haknya sebagai warga negara, baik yang bergerak untuk advokasi difabel, kebebasan berkeyakinan, hak masyarakat adat serta masalah sosial dan kemanusiaan lainnya.

Menurut Ubaid, ranah advokasi kita terkait peningkatan kualitas pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning) tidak terbatas kepada pendidikan formal, namun perlu lebih fokus kepada masyarakat dengan keterbatasan ekonomi dan kerja-kerja sosial kesejahteraan lainnya, advokasi kita menyasar kepada ibu rumah tangga, pemuda pengangguran, balita dan kelompok-kelompok dengan keterbatasan akses pendidikan dan pembelajaran sebagai warga negara.

Semua sesi workshop berlangsung cukup interaktif, sedikitnya 20 partisipan mewakili lembaga jaringan memberi sejumlah masukan guna mendorong Indonesia lebih proaktif memfasiltasi warga negaranya memperoleh akses pendidikan sepanjang hayat. Terutama masukan-masukan terkait kajian regulasi (aspek legal), sumber daya manusia, tata kelola, aspek anggaran serta peran kolektif pemangku kepentingan yang diharapkan lebih mendorong negara mengakomodasinya dalam regulasi sistem pendidikan nasional yang komprehensif.
Koordinator Program The Asia South Pacific Association for Basic and Adult Education (ASPBAE) Cecilia Soriano dalam sesi Workshop menyampaikan beberapa mekanisme terkini yang menjadi program prioritas yang diperkuat oleh ASPBAE.

Cecilia memberi referensi negara yang dinilai berhasil menerapkan pendidikan sepanjang hayat (lifelong leraning), terutama negara-negara yang memberikan perhatian kepada pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning).

“Organisasi sipil (LSM) dapat berkontribusi memberi masukan kepada Pemangku kebijakan (pemerintah), salah satunya melalui kajian-kajian akademis lebih komprehensif guna mendorong Indonesia mencurahkan perhatian terhadap pendidikan sepanjang hayat yang diselaraskan dengan program nasional dan global,” tambah Cecilia.

Pekan ini Cecilia bertolak ke Bandung, Jawa Barat mendampingi Presiden ASPBAE Nani Zulminarni bersama sejumah perwakilan anggota ASPBAE. Selama di Bandung, delegasi ASPBAE berpartisipasi dalam sebuah Forum Pendidikan Dunia, melakukan pertemuan dengan kalangan muda para penggerak pusat belajar berbasis komunitas (Community Learning Center-CLC) di Bandung.

Diharapkan dari kunjungan lapangan dan mengikuti forum pendidikan dunia di Bandung, anggota ASPBAE dapat memetik pelajaran berarti dalam menerapkan program-program pendidikan sepanjang hayat (lifelong lerning) , terutama yang dikelola komunitas guna diterapkan di wilayah lain di tanah air.

Analis mengatakan, negara-negara perlu memberi ruang lebih besar kepada organisasi sipil (CSO) guna berkontribusi dalam menentukan arah pembangunan guna mewujudkan keberpihakan kepada kaum muda dan dewasa memperoleh akses pendidikan layak. Negara Asia Tenggara seperti Thailand dan negara-negara Amerika Utara terutama Kanada dinilai telah memiliki sistem pendidikan dan regulasi komprehensif terkait penerapan pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning system).

Sejauh ini proses pendidikan sepanjang hayat dipandang tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, namun terus berlanjut sepanjang hidupnya. Pendidikan dan proses pembelajaran terus-menerus bagi seseorang dinilai cukup bermanfaat guna memperkaya perspektif serta menyesuaikan diri meraih kehidupan yang lebih baik menghadapi kerasnya kompetisi dan perubahan global. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here